Mak Dawah Mak Dibingi
Lantaran kemiskinan bahasa, saya termasuk orang yang belum pernah ikut menikmati kekayaan karya-karya sastra daerah. Bahkan termasuk karya masyarakat saya sendiri di Lampung. Terkejutlah saya, ketika suatu saat membaca personal website budayawan Ajip Rasidi . Bahwa pada tahun 2008 Yayasan Kebudayaan Rancage pernah memberikan penghargaan kepada seorang sastrawan Lampung bernama Udo Z Karzi (Zulkarnain Zubairi) dalam buku kumpulan sajak berjudul Mak Dawah Mak Dibingi.
Nama Udo Z Karzi saya temukan sebagai salah seorang blogger Lampung dalam komunitas Seruit yang didirikan kawan baik saya Geri Sugiran yang kini bertapa di Sukabumi. Udo adalah jurnalis dan penulis sastra yang begitu rendah hati. Belum lama mengenalnya, ia sudah mengirimi saya buku karyanya yang terkenal itu. Didampingi istri sebagai alih bahasa, saya mencoba menyerap kekuatan emosi dari setiap kata yang muncul dari 50 puisi dalam buku pemberiannya itu. Saya sungguh terkesan sekali. Inilah kelebihan dari sastra daerah, penyampaiannya dalam bahasa ibu, membuatnya sangat akrab dengan keadaan. Simaklah salah satu sajak favorit saya, dari buku Mak Dawah Mak Dibingi berikut ini:

LIWA
api lagi sai dapok kubanggakon jak niku
apa lagi yang bisa kubanggakan darimu
lemoh ni tanoh subur sai sa kutinggalko tanno mekiyang
gemburnya tanah subur yang dulu kutinggal kini kerontang
way sindalapai, way rubok, way setiwang sai ngaleri hatiku
way sindalapai, way robok, way setiwang yang mengaliri jiwaku
mak lagi nyani rah semangatku merunggak
tak lagi membuat darah semangatku menggelegak
ujau ni pematang, biru ni pesagi, bangik ni angin
hijaunya bukit, birunya pesagi, lembutnya angin
mak lagi kutunggai delom pujamaan neram nambi
tak lagi kutemui dalam percumbuan kita kemarin
sakik mataku ngeliak kecadangan sekejung bilukan renglaya
perih mataku menyaksikan kegersangan sepanjang jalan berliku
pullanku mak dapok lagi nyegokkon kebatinan sai wat kulupako
hutanku tak mampu lagi menyimpan kekayaan yang pernah aku lupakan
sakik hatiku ngedengi tamak ni penguasa rik rakus ni pengusaha
sakit hatiku mendengar keserakahan penguasa dan kerakusan pengusaha
sai nyadangko ham tebiu, rangku ngawil iwa rik langui
yang merusak ham tubiyu, telaga tempatku memancing ikan dan berenang
pahik rasa ni ngedapokkon kenyataan nyak mak dapok petungga
pahit rasanya mendapat kenyataan aku tak dapat menjumpai
kantekku sai tanno lebon induh mit dipa
sahabatku yang kini menghilang entah kemana
api lagi sai dapok kuingok tentang niku
apa lagi yang bisa kuingat tentangmu
api lagi sai dapok ngikok nyakku jama niku
apa lagi yang bisa mengikatku denganmu
api lagi sai dapok nyani nyak nirami niku
apa lagi yang bisa membuatku merindukanmu
api lagi ingokan sai tinggal barong niku
apa lagi kenangan tertinggal bersamamu
api lagi …
apa lagi …
: niku beni rumpok, sunyin ni lain benyak
: kau punya orang lain. segalanya bukan untukku
Sebuah jeritan dan sesalan yang hampir sama, dengan yang pernah saya alami terhadap kampung Ibu saya di Blambangan Umpu, Waykanan di bagian Utara Lampung. Udo dan saya ternyata bernasib sama, sama-sama kehilangan desa yang kami cintai. Demi alasan pembangunan dan kemajuan peradaban, desa-desa alamiah berparas indah itu, telah dirusak oleh kekuasaan dan kekuatan modal. Rakyat terbius, mengadatasi diri dari figur petani menjadi figur pegawai negeri atau buruh pabrik. Sementara sedikit demi sedikit, mereka kehilangan tanahnya, hingga tak ada lagi yang tersisa. Kemajuan badan tanpa dibarengi kemajuan fikiran, ternyata hanya melahirkan kehancuran.
Dalam buku ini saya temukan banyak sekali bahasa Asing-Indonesia yang diadaptasi kedalam bentuk pengucapan bahasa daerah. Benarlah kiranya jika banyak orang menggelarinya sebagai Bapak Puisi Modern Lampung. Udo memberontak dari kukungan tatanan etis penggunaan bahasa daerah dalam masyarakatnya. Ia bereksperimentasi dalam wujud dialek umum yang sangat biasa diucapkan dalam komunikasi masyarakat Lampung Modern sehari-hari. Sehingga membuat buku ini menjadi lebih membumi dan menyentuh kondisi Lampung terkini.
Menikmati Mak Dawah Mak Dibingi, saya malah jadi berharap agar buku ini bisa menjadi simbol dari kebangkitan pembukuan dan penerbitan karya budaya masyarakat Lampung dan daerah-daerah lain. Masih terlalu banyak karya budaya Indonesia yang belum terdokumentasi dan terpublikasi kepada masyarakat luas. Setelah perampokan budaya oleh negara lain, sudah sepantasnya saat ini kita mulai sadar tentang pentingnya identifikasi dan sosialisasi kekayaan budaya yang kita miliki.
mak dawah mak dibingi
nyak resah
neram ingkah nunggu lanjutan ni urik
neram nyata ni ingkah ngejalani
induh api sai bakal tejadi
This entry was posted on Sunday, October 25th, 2009 at 5:37 am and is filed under Collection. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.






